© 2026 Pesantren Nurul Islam Tengaran

Menjadi Khairu Ummah: Menjaga Amar Ma’ruf, Nahi Munkar, dan Iman
Lainnya

Menjadi Khairu Ummah: Menjaga Amar Ma’ruf, Nahi Munkar, dan Iman

AF
Admin
Penulis
5 menit baca

Inspirasi Direktorat Pendidikan
Rabu, 24 September 2025
Oleh: Ust. Abdul Fattah Ismail Farras, Lc. M.IRKH.
(Kepala Bidang Pesantren Nurul Islam Direktorat Pendidikan)

Allah SWT memberikan sebuah predikat yang sangat mulia kepada umat Islam sebagaimana firman-Nya:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.”
(QS. Ali ‘Imran: 110)

Predikat khairu ummah—umat terbaik—bukan sekadar sebuah klaim atau kebanggaan identitas. Ayat tersebut sekaligus menjelaskan syarat yang harus dimiliki agar predikat itu benar-benar layak disandang.

Ada tiga fondasi utama yang disebutkan Allah SWT:

1.      Amar ma’ruf, yaitu mengajak dan memerintahkan kepada kebaikan.

2.      Nahi munkar, yaitu mencegah kemungkaran dan berbagai penyimpangan.

3.      Iman kepada Allah, sebagai pondasi utama yang menggerakkan keduanya.

Ketiga hal tersebut bukan hanya berlaku pada level individu, tetapi juga menjadi tiang penyangga keluarga, lembaga, masyarakat, hingga sebuah negara. Ketika iman melemah, kebaikan tidak lagi diperjuangkan, dan kemungkaran dibiarkan berkembang, maka perlahan-lahan kekuatan sebuah komunitas akan terkikis.

Kemungkaran yang Dibiarkan Akan Membahayakan Semua

Rasulullah ﷺ memberikan sebuah perumpamaan yang sangat kuat tentang pentingnya amar ma’ruf nahi munkar.

Beliau ﷺ bersabda:

مَثَلُ الْقَائِمِ عَلَى حُدُودِ اللَّهِ وَالْوَاقِعِ فِيهَا كَمَثَلِ قَوْمٍ اسْتَهَمُوا عَلَى سَفِينَةٍ…

“Perumpamaan orang yang menegakkan batas-batas Allah dan orang yang melanggarnya adalah seperti sekelompok orang yang berada di sebuah kapal…”
(HR. Bukhari, no. 2493)

Dalam hadis tersebut, Rasulullah ﷺ menggambarkan sebuah kapal yang terdiri atas dua bagian. Orang-orang yang berada di bagian bawah harus naik ke bagian atas ketika membutuhkan air. Kemudian sebagian dari mereka berpikir, “Bagaimana kalau kita melubangi bagian kapal yang menjadi tempat kita, sehingga kita bisa mendapatkan air tanpa mengganggu orang-orang di atas?”

Jika orang-orang yang berada di bagian atas membiarkan perbuatan tersebut, kapal akan bocor dan akhirnya seluruh penumpang dapat tenggelam.

Namun, apabila mereka mencegahnya, maka mereka menyelamatkan diri sendiri sekaligus menyelamatkan seluruh penumpang kapal.

Perumpamaan ini mengajarkan bahwa kemungkaran bukan hanya masalah pelakunya. Ketika sebuah kemungkaran dibiarkan tanpa ada upaya untuk mencegahnya, dampaknya dapat dirasakan oleh seluruh lingkungan.

Karena itu, amar ma’ruf nahi munkar bukan sekadar tugas seseorang yang memiliki jabatan tertentu. Ia adalah tanggung jawab bersama sesuai kemampuan dan posisi masing-masing.

Ketika Kemungkaran Dibiarkan

Al-Qur’an juga mengingatkan kita tentang kaum Bani Israil yang mendapatkan celaan karena mereka tidak saling mencegah dari kemungkaran.

Allah SWT berfirman:

كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ ۚ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ

“Mereka tidak saling mencegah dari kemungkaran yang mereka perbuat. Sungguh, sangat buruk apa yang mereka perbuat.”
(QS. Al-Ma’idah: 79)

Ayat ini memberikan pelajaran penting bahwa diam terhadap kemungkaran bukan perkara ringan.

Kemungkaran mungkin akan selalu ada. Tidak ada lingkungan yang sepenuhnya bebas dari kesalahan. Namun, selama masih ada orang-orang yang berusaha mengingatkan, menasihati, memperbaiki, dan mencegah kemungkaran dengan cara yang benar, maka selalu ada upaya menjaga masyarakat dari kerusakan.

Tugas kita bukan memastikan bahwa tidak pernah ada kemungkaran. Tugas kita adalah tidak membiarkan kemungkaran menjadi sesuatu yang dianggap biasa.

Tingkatan Mengingkari Kemungkaran

Rasulullah ﷺ juga menjelaskan bahwa kemampuan melakukan nahi munkar memiliki tingkatan.

Beliau bersabda:

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ

“Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu, maka dengan hatinya, dan yang demikian itu adalah selemah-lemahnya iman.”
(HR. Muslim, no. 49)

Hadis ini menunjukkan bahwa amar ma’ruf nahi munkar memiliki hubungan erat dengan kualitas iman.

Dengan tangan berarti menggunakan kewenangan atau kemampuan yang dimiliki, misalnya melalui kebijakan, tindakan, atau keputusan yang tepat.

Dengan lisan berarti memberikan nasihat, mengingatkan, mengedukasi, atau menyampaikan kebenaran dengan cara yang baik.

Adapun ketika seseorang benar-benar tidak memiliki kemampuan untuk mengubahnya, minimal ia mengingkari kemungkaran tersebut dalam hati, tidak menyetujuinya, dan tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang benar.

Tentu, pelaksanaan amar ma’ruf nahi munkar harus dilakukan dengan ilmu, hikmah, kemampuan, dan cara yang tepat, bukan dengan tindakan yang justru menimbulkan kemudaratan yang lebih besar.

Amar Ma’ruf Nahi Munkar Harus Menjadi Karakter

Pesan penting dari semua ini adalah bahwa amar ma’ruf nahi munkar tidak boleh berhenti sebagai sebuah teori dalam kajian. Ia harus menjadi karakter seorang muslim.

Di mana pun kita berada dan apa pun posisi kita—sebagai orang tua, guru, pemimpin, pegawai, pembina, siswa, maupun anggota masyarakat—kita memiliki ruang untuk mengambil bagian dalam menjaga kebaikan.

Seorang guru dapat mengajak muridnya mencintai kebaikan.

Seorang pemimpin dapat membuat kebijakan yang menjaga nilai-nilai kebaikan.

Seorang teman dapat mengingatkan temannya ketika melakukan kesalahan.

Seorang anggota keluarga dapat membangun suasana rumah yang saling menasihati dalam kebaikan.

Dengan demikian, amar ma’ruf nahi munkar bukan hanya aktivitas sesekali. Ia harus menjadi budaya yang hidup dalam individu, keluarga, dan lembaga.

Menjaga Kapal Kita Bersama

Setiap lembaga pada hakikatnya adalah seperti sebuah kapal. Kita berada di dalam kapal yang sama. Apa yang dilakukan oleh satu bagian dapat memberikan pengaruh kepada bagian yang lain.

Karena itu, jangan sampai kita menjadi orang yang hanya sibuk menjaga diri sendiri tetapi tidak peduli ketika “kapal” mulai dilubangi.

Sebaliknya, jangan pula kita menjadi orang yang mudah menyalahkan tanpa menawarkan perbaikan.

Yang dibutuhkan adalah kepedulian yang lahir dari iman: mengajak kepada kebaikan, mencegah kemungkaran, saling menasihati, dan saling menguatkan dalam kebenaran.

Allah SWT berfirman:

وَالْعَصْرِ ۝ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ ۝ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan kebajikan, serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.”
(QS. Al-‘Ashr: 1–3)

Iman melahirkan amal. Amal dijaga dengan saling menasihati. Kebaikan dipertahankan dengan kepedulian bersama.

Maka, menjadi khairu ummah bukan sekadar merasa bangga sebagai seorang muslim. Ia adalah panggilan untuk terus menghadirkan kebaikan, mencegah kerusakan, dan menjaga lingkungan kita agar tetap berada dalam ketaatan kepada Allah SWT.

Di mana pun kita berada, apa pun posisi kita, mari jadikan amar ma’ruf nahi munkar sebagai bagian dari karakter kita. Karena ketika setiap orang merasa bertanggung jawab menjaga kebaikan, insya Allah kapal yang kita naiki akan tetap selamat sampai tujuan.

Bagikan artikel ini

Komentar

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tinggalkan Komentar

Hubungi Kami! Hubungi Kami!